"Always Speaks The Truth Even when its Hurt"
INI ADALAH HAL-HAL YANG TIDAK DIBUKA DOKTER SECARA TERANG-TERANGAN KEPADAMU

Posted 2015 21, Jul by: admin Globeleaks    | 402.564 hits view

Ini adalah hal-hal yang Tidak dibuka Dokter Secara Terang-terangan kepadamu
    Bagikan di Facebook
Sponsored Links Globeleaks.com

Judul Asli : What Your Doctors Wont Disclose

Diterjemahkan dari bahasa inggris dari transkip Presentasi Dr Leana Wen di Amerika.

Sumber : What Your Doctors wont Disclose

Mereka mengatakan bahwa aku adalah seorang penghianat pada profesiku. Seharusnya aku dipecat, lisensiku diambil dan aku harus kembali ke Negara asalku. Emaiku diretas. Dalam sebuah forum diskusi antar dokter, seseorang mengatakan “Twitter Bom” aku tidak tahu apakah itu hal baik atau hal buruk. Tapi kemudian, sebuah komentar dating, “Sangat buruk bahwa twitter bom, bukan bom sungguhan”.

Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan melakukan sesuatu yang benar-benar menyulut kemarahan dokter lain. Menjadi seorang dokter tentu adalah mimpiku. Sejak kecil, aku tumbuh di china, di ingatan awalku, menjadi dokter adalah sebuah pekerjaan paling mulia. Aku harus bergegas ke rumah sakit setiap hari, karena asma ku sangat lah buru. Saya di sana hamper setiap minggu. Aku punya seorang dokter favorit, namanya Dr Sam, dia yang selalu merawatku. Dia kira-kira sama umurnya dengan ibuku. Dia cantik, mempunyai rambut tergrai keriting. Dan selalu memakai gaun kuning yang menyenangkan. Dia adalah dokter yang jika seseorang jatuh dan patah tulangnya, akan bertanya, mengapa tidak tertawa di mana “humerus” mu (Redaksi: versi bahasa inggris sebagai joke untuk Humor).

Kamu lihat, kamu akan kesakitan tentu saja, tetapi dokter seperti ini akan selalu membuat tampak bisa melupakan kesakitan itu segera mungkin. Ya kita semua anak-anak selalu mempunyai pahlawan yang mana kita ingin tumbuh besar seperti dia. Benar, aku ingin menjadi seperti dokter Sam. Ketika usiaku delapan tahun, orangtuaku dan aku pindah ke amerika dan menjadi Immigrant naratif. Orangtuaku membersihkan hotel, mencuci piring, sehingga aku bisa menggapai cita-citaku. Aku belajar inggris yang baik, dan orangtuaku sangat bahagia karena aku diterima di sekolah medis dan akhirnya mengambil sumpah kedokteranku.

Suatu hari, semuanya berubah, ibuku menelpon dan mengatakan bahwa dia merasa kurang enak badan. Dia batuk dan tidak kunjung sembuh, nafasnya pendek dan selalu lelah. Ibuku adalah tipe yang tak pernah mengeluh. Jika dia telah mengatakan sesuatu artinya, sesuatu itu adalah hal yang sangat buruk. Dan benar saja. Dia ternyata mengidap kanker payudara stadium empat. Artinya sudah menyebar ke paru-parunya, ke tulangnya bahkan ke otaknya.

Ibuku sangat berani,dia selalu berharap. Dia menjalani operasi, radiasi dan kemoterapi pada level ketika. Ketika dia kehilangan buku alamatnya, dia mencoba mencari nomor telepon onkologistnya di internet dan menemukannya, namun dia juga menemukan sesuatu yang lain.

Ada sisi lain dari ketakutan ini. Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, aku selalu mengawasi dan merawat anak usia 19 tahun yang mengendarai sepedanya dan ditabrak mobil SUV. Dia mengalami tujuh luka besar, tulang yang patah, pendarahan di bagian dalam dan di otaknya. Sekarang bayangkan jika anda orangtuanya. Dikabari dari 2000 mil untuk menemukan bahwa anaknya mengalami koma. Tentu saja anda akan bergegas bukan. Anda pasti ingin mengecek keadaan yang sebenarnya. Orangtua itu sampai di rumah sakit dan minta untuk melihat kondisi anaknya ketika kami para dokter mendiskusikan mengenai kondisi dan rencana apa yang akan dilakukan. Di mana menurut saya, beralasan. Dan juga memberikan kami kesempatan untuk menunjukkan betapa kami telah berusaha dan bagaimana kami perduli. Kepala dokter menolak dengan mengatakan tidak.

Kepala dokter itu mengatakan berbagai alasan, “bagaimana jika mereka menghalangi para perawat, Mereka mungkin bahkan akan bertanya ini itu. “bagaimana jika mereka melihat kesalahan kita dan menuntuk kita?” Apa yang aku lihat dari semua alasan yang ada adalah rasa takut ynag mendalam, dan apa yang kupelajari bahwa menjadi dokter, kita harus meletakkkan jaket putih kita di dinding dan bersembunyi di belakangnya. Ada sebuah epidemic tersembunyi di balik pengobatan ini . Tentu saja, pasien akan ketakutan ketika mereka dating ke dokter. Bayangkan jika kamu bangun dengan sakit perut yang luar biasa, kamu akan ke dokter dan melihat tempat yang sangat asing. Kamu akan berbaring di tempat yang terasa tidak familiar, dengan orang-orang nya dan gaun hijaunya yang terasa seperti alien. Akan ada orang yang dating menanyaimu dan kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi.

Kamu bahkan tidak akan pernah tahu apakah kamu akan mendapatkan selimut yang kamu minta 30 menit yang lalu. Tapi bukan hanya pasien yang ketakutan, dokter pun ketakutan juga, kami takut jika pasien menemukan tentang apa sebenarnya pengobatan itu. Apa yang kami lakukan?, kami meletakkan jaket putih kami dan bersembunyi di belakangnya. Semakin tinggi ketakutan semakin rendah rasa percaya diri dan pelayanan akan semakin buruk. Kami tidak hanya takut dengan rasa sakit kami juga takut dengan sakitnya menjadi takut.

Bisakah kita menjembatani ketidakterhubungan antara apa yang pasien butuhkan dan apa yang dokter lakukan?, bisakah kami menghilangkan sakitnya menjadi takut.? Mari saya Tanya dengan cara yang berbeda, jika bersembunyi bukanlah jawaban, bagaimana jika kami melakukan sebaliknya. Tidak bersembunyi?, apa yang terjadi jika kami para dokter menjadi sangat transparan dengan para pasiennya?

Musim gugur terakhir aku melakukan sebuah riset penelitian untuk menemukan apa yang orang-orang ingin tahu mengenai pelayanan kesehatannya. Aku tidak hanya ingin mempelajari mengenai pasien di rumah sakit, aku ingin mempelajari semua orang tidak hanya yang sakit kalau bisa. Karena itulah dua murid kesehatanku Suhavi tukcker dan Laura John, secara langsung ke lapangan. Mereka pergi ke bank, ke café kopi, ke restoran china, ke stasiun kereta. Apa yang ditemukan mereka?

Ketika kami bertanya pada orang-orang. “apa yang ingin kamu ketahui mengenai pelayanan kesehatanmu?” orang-orang menjawab, mereka ingin mengetahui mengenai dokter mereka. Orang mengerti bahwa pelayanan kesehatan adalah antara dokter dan pasiennya. Kemudian kami bertanya “apa yang ingin kamu tahu mengenai doktermu?” ada banyak jawaban yang berbeda-beda, beberapa ingin mengetahui apakah dokternya kompenten, apakah dokternya bersertifikasi, berapa lama sudah berpraktek?

Beberapa ingin memastikan bahwa dokternya tidak bias dalam mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan siapa yang membayar mereka. Secara lebih mengejutkan ternyata banyak aspek yang ingin diketahui orang mengenai dokter mereka. Jonathan usia 28 tahun, mahasiswa hukum, dia ingin mengetahui seseorang yang akan nyaman dengan pasien Gay dan yang mengetahui mengenai perawatan kesehatan Gay.

Serena 32 tahun seorang akuntan, mengatakan bahwa sangat penting bagi dirinya dan dokternya untuk berbagi hal-hal mengenai pilihan reproduksi, dan terkait dengan hak-hak wanita. Frank 59 tahun, tidak suka pergi ke dokter, dan percaya bahwa pencegahan pertama adalah yang terbaik, dia lebih nyaman dengan pengobatan alternatif.

Satu lainnya, semuanya menyatakan satu hal dengan esensi yang sama. Dokter pasien adalah sebuah hubungan intim.  Bahwa menunjukkan tubuhnya ke dokter, menunjukkan rahasia paling dalamnnya, maka mereka sangat ingin mengetahui dokternya. Hanya karena dokter harus melihat semua pasien, bukan berarti semua orang harus tahu semua dokter sehingga mereka bisa menentukan piliham.

Sebagai hasilnya, Saya membentuk sebuah kampanye berjudul “Siapa Dokterku?” Artinya membuka total transparansi dalam dunia pengobatan. Dokter berpartisipasi secara sukarela bukan hanya sekolah medis dimana, apa spesialis kami tetapi juga apa conflict of interest yang ada dalam diri kami di sebuah situs public yang bisa diakses oleh orang-orang.

Jika kamu pergi ke dokter karena sakit punggung, kamu tentu ingin tahu apakah dengan pergi ke satu dokter kamu akan diajukan untuk operasi punggung, dengan 5000 dollar, atau akan diajukan untuk pergi ke terapis fisik terlebih dahulu dengan biaya 25 dollar. Atau dokter tersebut akan tetap meminta bayaran sebesar itu, apapun rekomendasi atau tanpa rekomendasinya.  Kemudian kami juga memperhatikan isu LGBT, hak hak wanita, pengobatan alternative, langah-langkah pencegahan, dan keputusan mengenai hak hidup. Kita bersumpah untuk melayani, jadi pasien berhak tahu siapa kami. Kami percaya transparansi bisa menjadi obat dari ketakutan kami yang sebenarnya.

Aku berpikir beberapa dokter akan bergabung dan yang lainnya tidak. Tetapi tanpa perkiraan saya, Banyak sekali bahasan mengenai ini di berbagai forum dokter, di forum Medical public, dan komunitas online mengenai kesehatan, ribuan post disampaikan mengenai topic ini.

Dari seorang gastroenteropoligist di Portland : Saya mendedikasikan 12 tahun hidupku menjadi budak, saya mempunyai hutang dan cicilah rumah.  Saya bergantung makan siang gratis pada perusahaan obat untuk melayani pasien.”,

Dr Wen :  memang benar, mungkin berat untuk mengatakan bahwa menghasilkan 35000 dollar setahun untuk 4 anak tanggungan, sehingga sampai harus makan siang gratis dari perusahaan obat.  

Dari seorang  ahli orthopedic di Charlote “Saya menemukan bahwa hal ini adalah pencurian hak privasi saya, dari mana pendapatan saya berasal. Pasienku tidak pernah memberitahukan dari mana asal pendapatan mereka”,

Dr Wen :  tapi jelas, pendapatan pasien tentu seharusnya tidak masalah pada bagaimana kesehatannnya dan juga bagaimana seharusnya dokter melayaninya.

Dari seorang Psikiatris di New York City. “ cepat atau lambat, kita harus terbuka apakah kita suka kucing atau aning, apa model mobil yang kita kendarai, apa kertas toilet yang kita gunakan. “(Red : sindiran)

Dr Wen : Bagaimana perasaanmu mengenai Toyota atau Cottonelle, tentu tidak berpengaruh pada kesehatan pasienmu. Tetapi apa yang kamu pikirkan mengenai hak-hak wanita tentu penting.

Dari seorang Cardiologist di Kansas City: “Dr Wen, harus kembali ke Negara asalnya.”

Dr Wen : Ada hal yang harus diketahuinya, pertama-tama, hal ini bukan sesuatu yang wajib, tetapi sukarela. Hal kedua, Saya seorang warga Amerika dan sudah di sini.

Dalam sebulan orang yang mempekerjakanku mendapatkan banyak telepon meminta saya untuk dipecat. Saya menerima surat ke alamat rumah pribadi saya dengan ancaman untuk memberikan sanksi kepada saya. Teman teman dan keluarga saya meminta supaya saya segera menghentikan kampanye ini. Setelah ancaman bom, aku rasa ingin berhenti saja. Tetapi kemudian aku mendengarkan dari pasien.

Melalui sosial media dan percakapan tweet yang kemudian kusadari kemudian telah menciptakan 4.3 juta impresi dan ribuan orang menulis untuk tetap melanjutkan kampanyeku. Mereka menulis seperti ini “Jika dokter melakukan sesuatu yang mereka malu, seharusnya mereka tidak melakukannya sama sekali” , “Para pemenang kampanye harus terbuka  mengenai pengeluaran dana kampanye mereka, Lawyer harus terbuka mengenai conflict of interest mereka, mengapa dokter tidak?”

Akhirnya banyak orang yang menulis dengan esensi demikian “Biarkan kami para pasien menentukan apa yang penting untuk kami ketahui ketika kami memilih dokter.” Dalam percobaan pertama kami, 300 dokter telah bersumpah mengenai transparansi, sebuah pendekatan dari para dokter yang luar biasa. Tapi sebenarnya, hal ini bukan lah konsep baru. Ingat, Dr Sama, dokterku di China ? Dengan guyonan dan rambutnya yang bergelombang?, dia adalah tetanggaku, dia tinggal di jalan yang sama, saya pergi ke tempat yang sama dengan putrinya. Orangtuaku sangat percaya padanya, dan kami tahu siapa dia dan apa kepentingannya. Dia tidak memiliki apapun yang perlu disembunyikan.

Jika Kamu ahu bahwa keluargamu dokter yang kamu ketahui adalah ayah dari dua remaja yang berhenti merokok beberapa tahun yang lalu, dia orang yang mengaku suka pergi ke gereja, tapi kami melihatnya dua kali setahun saja ke geraja yakni pada paskah dan ketika mertuanya datang, dan dia tidak menyembunyikan apapun, tapi jika kamu berhadapan dengannya dan dia doktermu, tentu kamu tahu kapabilitasnya dalam melakukan kebohongan.

Aku mengetahui ini, Ibuku melawan kanker delapan tahun yang lalu, dia seorang yang suka berencana, dia banyak berpikir mengenai bagaimana nanti hidupnya dan bagaimana dia akan menjalaninya. Dia menulis dua belas halaman wasiat. Dan di dalamnya dia meminta bahwa saatnya untuk pergi. Tentu aku sedih, tapi aku tahu apa yang diinginkannya. Saya kemudian meminta agar mesin pembantu pernapasannya tidak dipasang, tetapi oncologist dan dokter lain yang menanganinya mengatakan “Ini ibumu apakah kamu sadar bahwa ini akan menyakitkan jika kamu tidak melakukan apapun terhadapnya?” Aku tahu ibuku sangat baik, aku mengerti wasiatnya, untuk membiarkan dia pergi dalam damai. Itu adalah hal terberat yang bisa aku lakukan. Aku memikul kata-kata dokter di ruangan itu setiap hari dalam hidupku.

Kita bisa menjembatani ketidak terhubungan antara apa yang dilakukan dokter dan apa yang dibutuhkan pasien. Kita bisa melakukannya dan kita sudah melakukannya. Transparansi adalah mengenai rasa percaya. Riset membuktikan bahwa keterbukaan juga membantu para dokter. Menjadi terbuka mengenai rekam jejak medis, membicarakan mengenai apa kesalahan-kesalahan medical yang pernah dilakukan akan meningkatkan rasa percaya pasien,  akan mengurangi malpraktek.

Keterbukaan itu dan rasa percaya itu akan menjadi penting ketika kita beralih dari wabah ke sikap. Bakteria mungkin tidak perduli dengan intimasi, tetapi bagi orang yang sedang bertarung dengan pilihan hidup, kehidupan diabetesnya, dan hal intim lainnya, orang butuh rasa intim dan percaya.

Ini adalah pernyataan dokter lainnya :

Brandon Combs di Denver : “Hal ini telah membuat diriku dan pasienku menjadi lebih dekat. Tipe relasi yang telah kubangun, karena itulah aku masuk ke dunia pengobatan”

Aaron Stupple di Denver : “Aku mengatakan pada pasienku bahwa aku akan terbuka secara total dengan mereka, aku tidak menyembunyikan apapun dengan mereka. Inilah aku, sekarang katakanlah tentang dirimu, kita sama”

14:38 May Nguyen, a family physician in Houston: "My colleagues are astounded by what I'm doing. They ask me how I could be so brave. I said, I'm not being brave, it's my job."

May Nguyen di Houston : “Kolegaku mengatakan bahwa aku sangat berani, bagaimana kamu bisa menjadi begitu berani?, Aku menjawab, itu bukan berani, itu kewajiban”

Aku akan menutup sesi ini dengan pemikiran akhir seperti ini. Menjadi transparan memang menakutkan, kamu merasa telanjang, tereskpos dan lemah, namun kelemahan itu bisa menjadi keuntungan yang luar biasa dalam praktek pengobatan. Ketika dokter akan masuk ke rumah sakit, membuka jaket putihnya dan menunjukkan siapa kita, dan apa pengobatan itu. Di situlah kita akan melihat bahwa tidak ada ketakutan, kita telah membangun rasa percaya. Ketika kita berubah ke paradigm yang tertutup menjadi terbuka, pasien kita akan sangat terbantu.

Dr Wen.


Sponsored Links
Tidak Ada komentar Surel
POSTING : SCIENCE
Sponsored Links




Popular Tag


New Tag






Globeleaks.com


Globeleaks.com adalah portal berita berisi informasi menarik, jika anda ingin berkontribusi, silahkan klik link Register.

Social Links


Subscribe Newsletter