"Always Speaks The Truth Even when its Hurt"
ANALISA : SANG MANTAN PRESIDEN YANG SANTUN NAMUN MENGIDAP SINDROM MEGALOMANIA ?

Posted 2016 13, Nov by: admin Globeleaks    | 369.785 hits view

Analisa : Sang Mantan Presiden yang Santun Namun Mengidap Sindrom Megalomania ?
    Bagikan di Facebook
Sponsored Links Globeleaks.com

Bahwa SBY manusia megalomania adalah perkiraan saja, namun memperhatikan sepak terjang SBY akhir-akhir ini, sepertinya memang benar bahwa SBY adalah tipe megalomania. Tipe yang terlalu mengandalkan citra kekuasaan sebagai kenyamanan.

10 Tahun menjabat sebagai Presiden, adalah waktu yang tidak sedikit, memang masih lebih cepat jika dibandingkan Soeharto, tetapi SBY tentu tidak mau dicap sebagai diktator kedua yang harus diturunkan rakyat karena terlalu lama menjabat di kursi kepresidenan yang adalah mandat rakyat, yakni suara Tuhan. SBY taat, dan patuh bahwa Rakyat telah mempercayainya 10 tahun.

Jika ditanya, apakah SBY sosok Idola?, rasanya sangat aneh jika kita mengatakan SBY itu sosok yang bukan Idola, untuk ukuran postur dan wajah, tentu SBY itu sosok yang kharismatik, dan bahkan cenderung dihargai, dan dielukan, serta disegani. Sosok yang kalau bertemu dengan orang lain, tampak teduh, sebuah citra yang kita tahu, sejak lama, SBY itu seorang santun dan negarawan yang menjaga cara komunikasinya sedemikian rupa ala kerajaan keraton.

Sampai pada titik itu, SBY tiada kurang dari yang disampaikan tadi, sosok negarawan idola, gambaran dan sosok pemimpin, sang Jenderal yang santun tuturnya yang entah mengapa setelah turun dari kursi kepresidenan tampak sirna lenyap, apakah merasa terusik masalah gonjang ganjing suksesi kepresiden atau karena dibanding-bandingkan, yang tentu pasti terjadi pada siapa saja, antara suksesor dan predesessor. Atau sudah terbiasa, dalam kekuasaan, bahwa setiap kata-katanya memiliki daya dorong dan kuasa untuk menggerakkan manusia, kini sosok itu seakan sirna termakan angin malam. SBY seakan melupakan bahwa dirinya adalah sosok karismatik yang dulu kita kenal dan sudah menjabat selama 10 Tahun, sudah berakhir masanya, bukan melupakan jasanya, namun konstitusi sudah mencukupkan kepemimpinannnya, agar dapat beristirahat.

Exercise of Power, SBY mungkin sudah terlanjur nyaman, namun belum merasa puas, awalnya dirinya hati-hati dan sangat menyayangkan jika menyia-nyiakan kekuasaan yang adalah mandat rakyat, suara Tuhan untuk dipermain-mainkan. Tapi mungkin sudah terbiasa dengan latihan kekuasaan, bahwa kekuasaan itu memiliki daya suruh yang luar biasa, SBY ketagihan. Kekuasaan itu nikmat, dan merasa bahwa kekuasaan kini merupakan haknya.

Yang tadinya mandat, kini menganggap bahwa kekuasaan telah menjadi hak kepemilikan. Padahal itu diberikan cuma-cuma, dan bisa diambil kapan saja. Namun bagi SBY, 10 tahun tidak cukup lagi, dan dirinya merasa perlu dilibatkan dalam setiap hal walau secara konstitusional masa jabatannya sudah selesai, tugasnya sudah purna.

Bagaikan orang yang merasa sangat diperlukan pendapatnya, padahal tidak ada yang sedang memerlukannya. Sampai pada titik di mana SBY tidak didengarkan, sehingga merasa perlu menonjolkan diri dan mengatakan, hei. Ini aku mantan Presiden Mengapa Tidak tanya pendapatku?.

Entah terkonsumsi oleh Indahnya kekuasaan yang semu itu atau hanya sekedar menyelamatkan posisi yang mungkin sudah sangat melemah, SBY harus merelakan anaknya. Agus Yudhoyono, seorang yang karir militernya cemerlang dan sangat diperhitungkan di masa depan, atau mungkin  adanya rumor dengan bola liar yang panas, kemungkinan besar salah dan benar sekaligus, bahwa karirnya akan tersendat, lebih lama, mengingat perselisihan antara Megawati dan SBY, perang dingin yang semua orang tahu, tetapi tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Megawati yang merasa dikhianati SBY secara politik dalam pilpres masa lampau, hingga ada yang berspekulasi, jika Megawati sedang dalam puncak politik, maka bukan hanya SBY yang dipurnakan karirnya, bahkan anak, hingga cicit SBY pun akan merasakan akibatnya. Entah itu benar atau tidak, Namun SBY tidak perlu takut, apalagi merasa rendah diri dengan mengorbankan anaknya Agus yang sebenarnya akan cemerlang, namun kini telah tersembelih oleh keinginan sang Ayah? Agus bahkan sering disebut tidak berpengalaman.

Perihal tidak suka diusik karena beberapa proyek mangkraknya dibuka Jokowi, sebenarnya adalah sah-sah saja. Karena memang pemerintahan ini adalah masa kerja Jokowi, dan sangat tidak pantas, jika hal-hal yang dulu tidak diselesaikan tidak dikerjakan saat ini. Tidak heran pula, jika SBY menjadi seseorang yang menjadi sorotan karena kemangkrakan tersebut terjadi di masanya, sekalipun itu, justru kenegarawanan seorang SBY diuji, apakah dirinya hanya siap dipuji saja. Saat luka-luka yang ditutup-tutupi dahulu, kini ditilik perlahan oleh Jokowi untuk disembuhkan dan diluruskan. 

Sudah tidak rahasia umum, bahwa banyak menteri-menteri SBY yang terseret ke dalam Bui, mulai dari sang Menteri Agama yang mengurusi Sapi, sampai yang terakhir Dahlan Iskan yang baru-baru ini dibidik KPK, belum kasus-kasus besar yang melibatkan kroni-kroni demokrat yang ketahuan bagi-bagi dollar, yang menyeret, mulai dari angelina sondakh, sampai si kelas kakap Gayus Tambunan, memang di masa SBYlah masa-masa di masa stabilitas sangat tinggi, namun kasus korupsi mencuat tiada habis-habisnya. Sampai kematian munir, hingga kini menjadi tanda tanya, di mana mencuatnya kasus itu sendiri, menunjukkan komunikasi politik SBY yang tidak santun, merasa sangat marah karena merasa dijadikan tersangka kasus Munir, padahal tidak ada yang menuduhnya. Hanya diminta dokumen mengenai Kasus Munir saja.

Sampai pada kasus ketua KPK anthazhari, yang dibui hingga 7 tahun untuk kasus pembunuhan yang titik terangnya tidak jelas. Publik hanya dibuat bertanya, melihat bahwa SBY begitu santunnya namun ada luka-luka dengan darah yang mengalir begitu derasnya tertutup oleh sistem yang terlalu rapi untuk diganggu-gugat. Serapi ketika SBY menandatangi perpres yang mengharuskan negara untuk menghadiahinya rumah setelah purna tugasnya tercapai.  

Barulah ketika Jokowi, SBY kelihatan panas, dan tidak sesantun  dahulu. Apakah merasa tidak dijadikan pusat konseling oleh Jokowi sang Presiden baru, atau karena memang sedang digerebek secara perlahan, kemungkinan SBY mulai getar getir. Sampai-sampai Kasus HMI yang melaporkan sang mantan dalam kasus Demo 4 November silam, Agus Yudhoyono pusat perhatian, harus menang Pilgub sementara Ahok pamornya tidak kunjung turun. SBY merasa perlu membuat Pidato serasa bernostalgia pidato kenegaraan. Tidak punya posisi, namun merasa perlu didengarkan. SBY memprovokasi agar Ahok dipenjara , padahal proses hukum sedang berjalan, SBY seakan amnesia akut, bahwa dulunya dia pernah jadi panglima tertinggi yang seharusnya tahu konstitusi adalah nomor satu dan konstitusi itu sedang berjalan.

10 tahun, waktu yang tidak singkat, bukan tidak ada prestasi, namun tidak menonjol, mengingat, citra yang begitu bagus, namun tiada faedah, infrastruktur, dan perekonomian nasional stagnan, prestasi Internasional tidak menonjol, kecuali bahwa Indonesia dikatakan aman, namun di dalamnya penuh intrik, kolusi yang kini mulai terbuka satu persatu. Slogan katakan tidak Pada Korupsi yang awalnya diapresiasi kini menjadi Meme olok-olok masyarakat. Sebuah Ironi bahwa Ruhut Sitompul kini membelakangi badan jika mengenai SBY, sebuah simbol bahwa kemungkinan banyak yang sudah meninggalkan sang mantan, si Jenderal santun.

SBY, mungkin dahulu terlalu santai merasa dua periode tidak akan ada akhrinya, kemungkinan ketagihan, akan dinasti dan kekuasaan, dan bagaimana rasanya telah dijamu sedemikian rupa. Merasa punya kekuasaan karena masih menyandang status ketua Partai, yang sudah seharusnya disuksesi kalangan muda yang lebih energik. Bukannya berlaku negarawan, malah SBY tampak kelihatan semakin lama semakin megalomania. Terobsesi pada kekuatan yang pada akhirnya akan dicabut Tuhan sewaktu-waktu.


Sponsored Links
Tidak Ada komentar Surel
POSTING : KONSPIRASI
Sponsored Links




Popular Tag


New Tag






Globeleaks.com


Globeleaks.com adalah portal berita berisi informasi menarik, jika anda ingin berkontribusi, silahkan klik link Register.

Social Links


Subscribe Newsletter